(Helsinki, Januari 2021)

Sedih mendengar berita aneka bencana alam di tanah air. Bumi memang menghadapi ambang batas ekologis. Petualangan kali ini bertema perubahan iklim.
Mencoba mengenalkan anak pada isu penting ini melalui kegiatan multiliterasi dengan fokus pada aspek afektif. Seperti kata Ibu Immordino-Yang, “it is literally neurobiologically impossible to think deeply about things that you don’t care about.”
===========================================
(1)
Alkisah di Negeri Es, orang-orang sedang kebingungan. Ukko si Peri Guntur mendadak sedih. Rasa depresi membuatnya kehilangan kekuatan untuk mengatur cuaca. Musim jadi tak tentu, panen gagal di mana-mana.
Mari kita ikuti petualangan anak-anak untuk menyelidiki hal apa saja yang membuat Ukko sedih.
Petunjuk pertama datang dari si penyihir bijak, Myrrysmies. Apa kira-kira ya isi suratnya?
Dalam suratnya, penyihir bijak Myrrysmies memberi petunjuk untuk menemukan pesan-pesan tersembunyi dari para Peri. Pesan ini akan membantu kita menemukan jawaban, mengapa Ukko si Peri Guntur bersedih.
(2)
Tapi ternyata, pesan-pesan ini ditulis dalam aksara rahasia kaum peri. Duh, bagaimana ini? Anak-anak harus mencari cara untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa manusia!
(3)
Beruntung anak-anak menemukan paket rahasia dari penyihir bijak Myrrysmies. Ternyata isinya kamus bahasa Peri!
Mereka pun bekerja keras menerjemahkan aksara Peri ini ke dalam bahasa manusia. Kira-kira, apa saja ya isi pesan dari para Peri ini?
Apa benar bisa membantu mereka memecahkan misteri, mengapa Ukko Si Peri Guntur bersedih? Mengapa ia tiba-tiba kehilangan kekuatan spesialnya untuk mengatur cuaca?
(4)
Akhirnya anak-anak berhasil menerjemahkan pesan-pesan rahasia dari para Peri.
Sekarang, saatnya untuk mencari tahu. Apa sih yang dimaksud para Peri dengan “carbon footprint,” atau “biodevirsity loss?” Waktunya untuk membuka buku-buku yang tersedia, juga tentunya, tanya Mbah Google 😁.
Di sekolah anak-anak sudah mulai belajar soal isu perubahan iklim. Alhasil mereka sudah mulai bisa menebak bahwa hal-hal yang membuat Ukko Si Peri Guntur bersedih itu berkaitan dengan isu tersebut.
Tapi tunggu, petualangan belum selesai. Ada surat baru yang datang dari penyihir bijak, Myrrysmies. Ada petunjuk apa lagi, nih?
(5)
Penyihir bijak Myrrysmies mengirim paket berisi tiga benda ajaib. Kaca pembesar, topeng, dan teropong ajaib. Anak-anak diberi pesan, “ayo bertualang ke alam bebas!” Tiga benda ajaib ini bisa digunakan untuk menemukan para Peri yang tinggal di alam.
Petunjuk selanjutnya adalah untuk menanyakan kepada para Peri. Hal apa saja yang mereka sukai. Juga hal apa saja yang membuat mereka sedih. Apakah sama dengan hal yang membuat Ukko Si Peri Guntur bersedih? Karena ini musim dingin, anak-anak pun memutuskan mencari Lumi Si Peri Salju.
(6)
Misteri tentang mengapa Ukko Si Peri Guntur bersedih sekarang sudah mulai terpecahkan. Ukko sedih karena banyak orang menyia-nyiakan makanan, boros energi, mengeluarkan jejak karbon yang tinggi, hal-hal yang berkaitan dengan pemanasan global dan perubahan iklim.
Anak-anak juga sempat bertualang ke tepian Laut Baltik untuk bercakap-cakap dengan Lumi Si Peri Salju. Sama dengan Ukko, ternyata Lumi pun sedih jika bumi memanas. Ia akan meleleh, tak bisa lagi menurunkan salju yang lembut.
Sekarang saatnya untuk refleksi. Anak-anak membuat catatan dari perjalanan mereka tadi.
Oh ya, petualangan kita belum selesai. Ternyata masih ada tantangan berikutnya!
(7)
Aktivitas selanjutnya adalah menyusun totem yang masing-masing melambangkan tokoh aneka peri. Ada Ukko Si Peri Guntur, Vetehinen Si Peri Air, Tapio Si Peri Hutan.
Juga ada totem yang menggambarkan apa yang kita temukan di alam sekitar. Ada sungai, ada danau, ada awan, ada pepohonan, dsb.
Sambil menyusun totem, anak-anak diminta menghubungkan. Kiranya siapakah peri yang bertugas mengalirkan air sungai dan danau? Siapakah yang bertugas merawat pohon-pohon di hutan?
Awalnya anak-anak menjawab: Vetehinen Si Peri Air bertugas mengalirkan air di sungai dan danau. Tapio Si Peri Hutan bertugas menumbuhkan pepohonan.
Tapi kemudian anak-anak mulai berpikir sistem. Semua peri perlu bekerja sama. Elemen alam itu terkait satu sama lain. Untuk menumbuhkan pohon di hutan, alam butuh air, butuh hujan, butuh awan. Ukko, Tapio, Vetehinen, dan peri-peri lainnya, semua saling bekerja sama.
Anak-anak juga bisa memvisualisasikan. Satu saja elemen alam rusak, ekosistem keseluruhan akan terganggu. Seperti saat satu saja totem diambil, bisa roboh keseluruhannya.
(8)
Aktivitas pamungkas dari rangkaian petualangan ini.
Akhirnya, terungkap misteri mengapa Ukko Si Peri Guntur bersedih dan kehilangan kekuatannya untuk mengatur cuaca.
Sekarang, saatnya untuk mengimajinasikan aneka skenario yang mungkin terjadi dalam kisah para peri di Negeri Es ini.
Bagaimanakah caranya supaya Ukko tak lagi bersedih? Apa saja yang harus terjadi dalam cerita supaya Ukko tersenyum bahagia? Apa yang harus kita lakukan supaya kekuatan Ukko kembali lagi?
Bagaimana dengan peri-peri lainnya di Negeri Es. Apa saja cerita mereka?
Inti dari aktivitas terakhir ini adalah untuk mengajak anak optimis membayangkan masa depan planet bumi.
Apa yang harus kita lakukan supaya bumi tidak lagi sedih, tersenyum bahagia, dan kembali lestari.
