Sekolah Sadar Trauma

(Helsinki, Desember 2020)

Sesi daring sama Dr. Lori kemarin intinya mengajak kita pendidik (orang tua maupun guru) untuk memahami bahwa banyak anak yang datang ke sekolah dalam kondisi otak tidak siap belajar.

Kalau di tabel di bawah, mereka cenderung seperti yang dipaparkan oleh tabel yang kanan. “Teror, rasa takut, siaga,” adalah bahasa yang mendominasi.

Penyebabnya adalah aneka pengalaman masa kecil yang buruk (adverse childhood experience/ ACE). Hal-hal semacam KDRT, kekerasan pada anak, pelecehan seksual, pengabaian emosional dsb. Tak bisa dipungkiri masih banyak mengancam anak-anak kita.

Berkelindan pula dengan permasalahan sosial ekonomi di negeri kita yang rumit. Kemiskinan, sanitasi yang buruk, minimnya kesempatan untuk mobilitas sosial, iklim politik yang toksik yang menyebabkan lunturnya keguyuban dan rasa saling percaya di masyarakat kita.

Dan saat ini, satu lagi lapis trauma datang. Menumpuk di atas semua permasalahan yang sudah ada sebelumnya. Tak peduli seberapa aman lingkungan tumbuh kembang anak yang kita ciptakan dalam lingkup keluarga kita. Pandemi sedikit banyak telah mempengaruhi semua orang.

Dr. Lori menggunakan pendekatan ilmu neurosains pendidikan yang aplikatif. Tentang bagaimana menuntun otak anak untuk bergeser ke apa yang dipaparkan oleh tabel yang kiri. Menuju area korteks di mana anak siap belajar.

Anak hadir, bisa fokus belajar kalau otak dan badannya tenang. Dr. Lori sangat fokus pada koneksi badan & otak, ia sering menggunakan istilah “embodied sensory experience.” Kondisi otak anak tidak bisa dipisahkan dengan apa yang dialami oleh badannya, baik gerakan motorik maupun pengalaman sensori.

Di lampiran bukunya, Dr. Lori membagi bekal strategi untuk menuntun anak supaya sampai di kondisi siap belajar. Ada dari bab A sampai bab M.

Salah satu startegi sederhana: Menyiapkan sudut P3K untuk amigdala. Intinya menyediakan tempat yang aman dan nyaman buat anak menenangkan diri. Di situ disediakan mainan-mainan yang menstimulasi sensori. Nggak rumit-rumit, bisa dari sekedar pensil warna, jurnal, rubik, stress ball, pasir kinetik, beras/biji-bijian, lava lamp.

Kalau di sekolah yang terbatas ruangannya, bahkan bentuknya bisa semacam kotak P3K saja. Kalau di rumah, kita memang lebih leluasa untuk mengkreasikannya.

Contoh pojok amigdala di rumah. Sumber: situs pribadi Dr. Lori.

Kalau kata Dr. Lori, sekolah yang kita butuhkan di jaman seperti sekarang ini adalah “trauma informed school”, sekolah yang sadar trauma. Sekolah yang punya budaya menyembuhkan, “therapeutic culture.” Semoga para pemangku kebijakan kita juga punya pikiran yang menuju ke sana.

Menurut saya, buku Dr. Lori ini sangat patut dibaca oleh siapapun yang sedang mengimajinasikan ulang pendidikan maupun persekolahan. Sangat relevan.