Girl Decoded

(Helsinki, Desember 2020)

Aku mau pamer! Ternyata aku punya lipensetip kayak punya Mbak Dal Mi. Tapi pasti sudah kadaluarsa. Ini dibelikan teman, mungkin sekitar tiga tahun yang lalu 😂.

Gara-gara kemarin sukses maraton nonton prahara Ji Pyeong – Dal Mi – Do San, jadi penasaran baca buku bertema teknologi, inovasi & kewirausahaan. Genre yang hampir tak pernah kulirik sebenarnya. The Power of Drakor. Luar biasa memang.

Baca bukunya Mbak Rana ini kayak melihat kombinasi sosok Do San & Dal Mi dalam diri satu orang. Ahli kecerdasan buatan sekaligus CEO perusahaan teknologi yang didirikannya.

Jago hal teknikal biasanya dipertentangkan sama jago jualan. Tapi tidak buat Mbak Rana. Ia nampak memiliki keduanya.

Mbak Rana ini muslimah asli Mesir. Ia meraih PhD di bidang kecerdasan buatan dari universitas Cambridge di Inggris.

Topik penelitiannya sangat ambisius, tentang bagaimana komputer bisa mengenali emosi. Tentang memberikan sentuhan manusiawi pada sesosok mesin yang dingin.

Saking menariknya topik disertasinya, Mbak Rana dapat dukungan penuh dari Simon Baron Cohen, ilmuwan ahli autisme ternama di dunia. (Iya, kecurigaan anda benar, memang masih saudara sama Si Borat, Sascha Baron Cohen 😂)

Setelah lulus Mbak Rana melanjutkan postdoc di MIT. Dari situlah ia bersama dosennya mendirikan sebuah perusahaan rintisan bernama Affectiva.

Perusahaan ini dikenal sebagai salah satu pionir dalam hal pengintegrasian ‘kecerdasan emosi’ kedalam teknologi kecerdasan buatan. Mbak Rana menyebutnya sebagai Emotion AI.

Konkretnya begini. Kalau mengambil contoh aplikasi asisten pribadinya Ji Pyeong, Yong Sil. Yang diupayakan Mbak Rana ini adalah bagaimana membuat Yong Sil peka, bisa akurat memahami apakah Ji Pyeong lagi sedih, kesal, stres, capek, bahagia. Lalu bisa memberikan respon yang sesuai.

Tidak seperti Yong Sil kemarin yang masih sering ngawur. Ji Pyeong lagi patah hati, malah dikasih musik yang makin bikin terpotek-potek. Ngeselin 😂.

Ambisius sekali memang. Misi Mbak Rana adalah menghadirkan apa yang tidak dimiliki oleh teknologi saat ini. Ia banyak menyebut konsep seperti, “human touch”, “emotions”, dan yang sering diabaikan oleh para teknologis, soal “ethics.”

Mbak Rana jungkir balik ketika awal merintis Affectiva. Harus bolak-balik Kairo-Boston. Tak sia-sia, kerja kerasnya membuahkan hasil. Affectiva kini berkembang pesat.

Di tahun 2013, sosoknya bahkan sempat masuk dalam jajaran “35 Innovators Under 35” menurut MIT Technology Review.

Memoar tentang sosok wanita sukses memang banyak di luar sana. Tapi yang menarik dari bukunya Mbak Rana ini adalah kejujurannya.

Ketimbang menghadirkan ilusi bahwa menyeimbangkan keluarga dan karir itu PASTI bisa dilakukan semua perempuan, ia menuliskan apa adanya. Memang, banyak yang berhasil melakukannya. Sayangnya, tidak begitu menurut pengalaman pribadi Mbak Rana.

Sebenarnya, Mbak Rana dan suaminya ini dikenal sebagai pasangan ideal yang saling memuja satu sama lain. Suaminya termasuk sosok progresif yang terbuka pada pentingnya memberi kesempatan buat perempuan untuk berkarya. Juga sosok yang suportif. Selalu berusaha memahami kesibukan Mbak Rana.

Namun memang, menjalani kehidupan rumah tangga itu bukan hal sederhana. Seiring berjalannya waktu, energi keduanya habis untuk mengurus anak-anak dan perusahaan (suami Mbak Rana juga pendiri sebuah perusahaan teknologi di Mesir). Berawal dari keyakinan akan kuatnya fondasi hubungan mereka, rutinitas memupuk romansa pernikahan tidak jadi prioritas. Hubungan mereka jadi berjarak.

Tak semua cerita berakhir bak dongeng putri-putrian, “mereka hidup bahagia selamanya.” Pembaca yang sedari awal mengikuti romantisme pertemuan kedua sejoli bak Dal Mi – Do San ini dibuat patah hati. Mbak Rana berpisah dengan suaminya. Ia dan kedua anaknya kini bermukim permanen di Amerika.

Dalam memoarnya ini, Mbak Rana memang tidak ingin menghadirkan sosok yang sempurna. Ia punya banyak kelebihan, tapi juga kekurangan.

Perjalanan Mbak Rana yang banyak mempelajari emosi manusia membuatnya tak alergi untuk membuka kerapuhan dirinya. Ia jujur mengungkapkan aneka pergulatan yang dialaminya. Dari soal gegar budaya, pemaknaan nilai agama, kegundahan ibu berkarir yang dihantui rasa bersalah, aneka konflik batin yang normal dihadapi manusia.

Kita tak harus setuju dengan semua sikap yang diambil Mbak Rana. Sebagai pembaca, kritis itu harus. Tapi jangan lupa, wajib mengapresiasi, bahwa buku ini adalah tentang hidup Mbak Rana.

Setiap cerita personal itu valid. Hanya karena kita punya pendapat atau pengalaman berbeda, tidak membuat kita punya hak untuk meniadakan pengalaman orang lain.

Secara keseluruhan, buku ini patut dibaca. Terutama untuk remaja dan perempuan muda yang tertarik bidang teknologi dan kewirausahaan. Apalagi dengan minimnya sosok perempuan dari etnis berwarna dalam kancah internasional. Banyak inspirasi yang bisa didapat dari perjalanan hidup Mbak Rana.

Sumber:

“Girl Decoded: A Scientist’s Quest to Reclaim Our Humanity by Bringing Emotional Intelligence to Technology” by Rana el Kaliouby, Carol Colman.

Start reading it for free: https://a.co/iuTFY2u