(Oulu, Desember 2019)
Ini lanjutan dongeng dari Profesor Zhao kemarin. Bahasan kali ini fokus pada mengapa pendidikan di negerinya begitu kompetitif.
Sedikit agak lebih kompleks dari sekedar soal jumlah penduduk yang satu milyar lebih.
1. Kelangkaan kesempatan yang direkayasa.
Sistem Keju ini meyakinkan orang bahwa hanya ada satu jalan menuju kesuksesan. Lulus ujian Keju.
Sukses itu ya kalau berhasil jadi pegawai kerajaan.
Tentu saja, kuota pegawai kerajaan terbatas. Makanya terjadilah kompetisi sengit. Karena satu penjuru negeri berebut posisi yang cuma sedikit.
Walau sistem Keju sudah dihapuskan. Keberadaannya yang lebih satu milenia itu tentu punya jejak mendalam di masyarakatnya.
Pertanyaannya:
Kelangkaan seperti itu memang tak terhindarkan atau sebanarnya kita punya pilihan lain?
Mengapa tidak memperluas definisi sukses?
Tidak cuma jadi pegawai kerajaan, tidak cuma lulus ujian tertentu?
Persaingan sengit terjadi karena kita punya definisi sempit soal sukses. Hanya profesi-profesi tertentu yang jadi parameter sukses, yang dianggap layak dikejar dalam hidup ini.
“Tapi pekerjaan anu mana ada duitnya. Mau makan apa?”
Mungkin kita perlu bertanya ulang. Sebenarnya bagaimana perekonomian kita meletakkan nilai (dan gaji) dari suatu pekerjaan. Kenapa misal mengurus anak tidak dianggap punya nilai? Bahkan tidak masuk perhitungan GDP?
Ada satu buku menarik, The Value of Everything dari Mariana Mazzucato. Walau ini buku ekonomi tapi rasanya patut dibaca semua yang berkecimpung di dunia pendidikan.
2. Struktur sosial masyarakat yang hierarkis

Tentu hierarki punya nilai positifnya sendiri. Tapi mari kita soroti sisi negatifnya.
Struktur ini menentukan semuanya dari alokasi kekuasaan, kekayaan, sampai posisi duduk kita di meja makan.
Berbentuk piramida, artinya semakin di atas semakin menyempit. Semakin sedikit kuotanya.
Semua orang berlomba untuk berada di puncak. Kompetisi sengit mau tidak mau ya terjadi.
Pola pikir hierarkis ini juga punya implikasi terhadap pandangan kita mengenai nilai intrinsik diri.
Cenderung ada anggapan bahwa nilai diri ditentukan dengan kemampuan untuk selalu naik level. Akan selalu ada yang duduk di atas kita. Maka ini jadi upaya tak henti untuk berkompetisi mengalahkan orang lain.
Hierarki ini juga membuat memiliki profesi yang tepat saja tidaklah cukup. Di dalam profesi tersebut kita juga harus meraih posisi yang tinggi. Harus selalu naik pangkat. Tentu ini membuat kompetisi semakin tak berkesudahan.
“Because of the manufactured scarcity of good positions, good schools, and good universities, and the hierarchical thinking, education becomes a fierce competition, in which the students, parents, and teachers constantly are working to outperform others (Cheng, 2011; Zhao, 2014)”
Pertanyaannya:
– Pola pikir hierarkis ini merupakan hal tak terhindarkan, sudah nasib negeri berpenduduk banyak, atau sebenarnya kita punya pilihan lain?
– Mengapa ilustrasi piramida rantai predator ini paling membekas di memori kita, membentuk model mental bagi kita? Padahal alam menyediakan banyak model lain, yang bentuknya bukan piramida. Simbiosis mutualisme? Siklus oksigen? Siklus air?
– “Survival for the fittest?” Strategi survival bukannya tidak hanya kompetisi. Konon kolaborasi lebih punya peran penting bagi keberhasilan evolusi?
Itu semua memang bukan pertanyaan mudah. Sampai sekarang saya juga tidak tahu apa jawabannya.
