Museum Lenin di Tampere

Tampere, Musim Panas 2021

“As long as you keep secrets and suppress information, you are fundamentally at war with yourself…The critical issue is allowing yourself to know what you know. That takes an enormous amount of courage…” 
(Bessel A. van der Kolk, The Body Keeps the Score: Brain, Mind, and Body in the Healing of Trauma)

Bangsa mana pun pasti memiliki luka trauma masa lalu. Mau bangsa di pojok kutub utara atau di tengah garis khatulistiwa.

Kalau diibaratkan tubuh manusia, setiap orang mungkin punya cara berbeda-beda untuk menghadapi traumanya sendiri. Begitu juga sebuah bangsa. Punya cara yang berbeda pula untuk berdamai dengan beban sejarahnya masing-masing.

Tapi satu hal yang jadi pertanyaan. 

Ada cara sehat untuk menghadapi trauma, ada juga cara yang tidak sehat. 

Ada yang membiarkan trauma terus hidup menghantui masa kini. Ada pula yang berusaha mendemistifikasi trauma dan mampu mengurainya lapis demi lapis. 

Trauma mempengaruhi cara tubuh dan otak mengatur persepsi. Trauma tidak hanya mempengaruhi bagaimana cara kita berpikir dan merasa, hal apa yang kita pikirkan dan rasakan, tapi juga yang lebih fundamental, mempengaruhi KAPASITAS kita untuk BERPIKIR dan MERASA.

Terus-terusan menjalankan mekanisme tidak sehat untuk menghadapi trauma hanyalah resep manjur untuk menumpulkan kemampuan kita berpikir, merasa, dan tentunya berkarya. 

Jika kita punya banyak pertanyaan tentang  bagaimana suatu bangsa menjalankan proses pendidikannya (ikut definisi KHD tentang pendidikan: olah cipta, rasa, karsa) mulailah dari satu hal. Bagaimana bangsa tersebut menghadapi trauma sejarah masa lalunya.

Memilih cara sehat berdamai dengan trauma, lewat dekonstruksi kritis sejarah, demi upaya rekonsiliasi.

Ataukah terus menggarami luka lama, memperlakukannya bak hantu gentayangan yang tak henti membayangi masa kini?