The Finnish Museum of Games

Tampere, Juli 2021

Di museum ini kita akan belajar banyak soal sejarah gaming culture di Finlandia. Kebanyakan dari kita mungkin cuma tahu soal Angry Birds buatan Rovio atau Clash of Clans besutan Supercell.

Tapi ternyata semua itu bisa ditarik panjang ke belakang. Perkembangan industri game di Finlandia tidak bisa dipisahkan dari keseluruhan budaya bermain game di negeri ini, baik boardgame, game arcade, video game hingga mobile game.

Menariknya, perkembangan pesat video game tidak menyurutkan minat orang Finlandia terhadap game non elektronik seperti boardgame.

Apabila kita berkunjung ke perpustakaan, akan ada area tersendiri yang dikhususkan untuk menyimpan aneka boardgame yang bisa dipinjam ke rumah. Bermain game sendiri tidak diposisikan sebagai musuh dari membaca buku. Bahkan area bermain video game juga tersedia lho di perpustakaan. Yang lebih ditekankan pada anak adalah bagaimana mengenali kelebihan dan kekurangan masing-masing media. Juga bagaimana menyeimbangkan semua, agar tidak mengganggu wellbeing secara keseluruhan.

Pendekatan seperti itu rasanya lebih masuk akal ketimbang secara berlebihan melarang-larang anak bermain video game. Semakin kita larang, biasanya anak malah semakin melawan. Semakin kita cereweti untuk banyak membaca buku, anak malah semakin malas untuk membaca 😅.

Di Finlandia video game dipandang sebagai bagian dari story telling atau budaya bercerita. Maka sebetulnya bisa dipandang sebagai rekan, bukan musuh dari dunia buku dan literasi. Mereka juga memiliki budaya untuk beraktivitas outdoor yang tak kenal cuaca. Ini sebetulnya yang penting. Video game memiliki kecenderungan membuat kita jadi sendenter dan malas bergerak. Padahal untuk memiliki badan dan mental yang sehat kita perlu banyak menggerakkan badan.

Karena sudah memiliki budaya literasi dan beraktivitas outdoor yang kuat, ketakutan berlebihan dari orang tua akan dampak negatif video game bisa dihindari. Tentu saja ada kekhawatiran dan kewaspadaan yang wajar. Tapi didukung dengan tersedianya banyak fasilitas bermain buat anak-anak: perpustakaan, museum, taman bermain (Rovio, membuat taman bermain publik bertema Angry Birds di beberapa lokasi), hutan kota dan sebagainya, memang lebih mudah bagi orang tua untuk menyeimbangkan aneka aktivitas anak.

Dengan cara pandang seperti itu mereka jadi bisa optimal menarik manfaat dari perkembangan teknologi gaming. Industri gaming jadi salah satu unggulan sektor ICT di Finlandia. Sejauh ini ada lebih dari 200 studio pembuat game di negeri ini. Di tahun 2020 kemarin, tercatat bahwa total turnover industri game sendiri mencapai sekitar 2.4 miliar euro. Angka ini sangat signifikan mengingat bahwa negeri ini hanya berpenduduk sekitar 5 juta orang.

Karena industrinya masih terus bertumbuh, sampai saat ini pun sebenarnya mereka masih mengalami kekurangan talent. Alhasil ini jadi salah satu peluang bagi pekerja asing untuk bekerja di Finlandia. Sejauh ini konon sekitar 28% pekerja di industri game di sini adalah pekerja asing. Tidak mudah sebetulnya buat pekerja asing untuk masuk ke Finlandia. Jalur profesional didominasi sektor ICT. Game developer ini salah satunya.

Penggunaan game digital di sektor pendidikan juga bukan hal yang tabu di sini. Bahkan pengajaran membaca di TK dan Sekolah Dasar memanfaatkan sebuah game belajar membaca yang namanya Ekapeli. Game ini sangat populer, setiap anak di Finlandia pasti pernah memainkannya.

Role play game untuk simulasi, seperti apa rasanya tinggal di daerah okupasi seperti Palestina. Game ini bagian dari upaya mengedukasi anak muda terhadap isu pelanggaran HAM di Palestina.

Gamifikasi pembelajaran, tak melulu lewat game digital, memang jadi salah satu pendekatan belajar yang juga dipakai oleh guru-guru di sini. Semua berangkat dari penghargaan tinggi atas konsep bermain. Seperti filosofi yang dipegang LEGO, main adalah sebuah pola pikir. Aktivitas apapun yang kita lakukan perlu memiliki ketiga unsur ini, “choice, wonder & delight.” Terlebih proses belajar, anak perlu berdaya untuk membuat pilihan, fitrah rasa ingin tahu anak tidak dimatikan, rasa senang juga diusahakan muncul pada diri anak.