(Turku, Desember 2020)

Ada hal yang baru saya ketahui karena berkunjung ke Gereja di dalam Turku Castle ini.
Para pendeta Lutheran menganggap bahwa semua orang harus bisa membaca kitabnya, lewat bahasa mereka masing-masing.

Pun di sini dulu itu kalau mau nikah di gereja Lutheran ada tesnya dulu buat calon nganten. Alias harus bisa baca tulis.
Jadilah semua “terpaksa” bisa baca tulis. Walau petani & rakyat biasa.
Karena orang bisa baca, terbuka wawasannya. Sadar punya agensi. Dengan sendirinya pada bergerak.
Berkembanglah aneka mode “folkbildning,” alias popular education. Semacam pendidikan non formal yang digerakkan komunitas dan dekat dengan realitas sosial. Mungkin kalau bahasa sekarang ya semacam pedadogi transformatif gitulah.
Salah satunya, yang namanya “studiecirklar,” kayak aneka klub diskusi gitu. Kalau yang kumpul petani ya bahasnya yang dekat sama topik pertanian. Tergantung minat aja grup-grupnya.
Dari situ memang awalnya.
Ada peran agamawan untuk membuat masyarakat melek huruf dulu.
Kemudian rakyat jelata pun bisa mengorganisasikan diri mereka sendiri, bikin akses belajar, walaupun bukan sekolah formal. (Jaman dulu mereka juga masih miskin, yang bisa sekolah formal ya anak ningrat.)
Orang berkumpul, berorganisasi, diskusi, belajar. Lama-lama melahirkan gerakan politik.
Singkat cerita, begitulah cikal bakal lahirnya sistem negara kesejahteraan di area Nordik ini.
Kalau sekarang ada kebijakan cuti panjang untuk ibu & bapak. Sekolah, kesehatan gratis, dsb.
Kalau dirunut-runut sejarahnya, memang ada peran besar gereja Lutheran sebagai pembentuk fondasi literasi masyarakatnya.
